ANKARA,khatulistiwaonline.com
Para jaksa Turki tengah menyelidiki mengapa polisi muda yang menembak mati Dubes Rusia untuk Turki tidak ditangkap hidup-hidup.
Dubes Andrei Karlov ditembak dari belakang saat tengah berpidato dalam pembukaan pameran foto di Ankara pada Senin, 19 Desember lalu. Pembunuhnya diidentifikasi sebagai Mevlut Mert Altintas (22) yang meneriakkan “Jangan lupakan Aleppo, jangan lupakan Suriah!” dalam bahasa Turki dan “Allahu Akbar”.
Menurut kantor berita pemerintah Turki, Anadolu, para jaksa tengah menyelidiki mengapa pasukan khusus Turki, yang menyerbu masuk ke dalam galeri setelah penembakan Dubes Karlov, tidak menangkap pelaku hidup-hidup.
Penyelidikan awal menunjukkan, Altintas terus melepas tembakan ke para polisi sembari berteriak: “Kalian tak bisa menangkap saya hidup-hidup!”. Demikian diberitakan Anadolu seperti dilansir kantor berita Reuters, Kamis (22/12/2016).
Disebutkan Anadolu, polisi awalnya menembak Altintas di bagian kaki, namun pria muda itu terus melepas tembakan saat dirinya tersungkur dan merangkak usai ditembak. Hal itu mendorong polisi untuk kembali menembak Altintas hingga tewas.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membela tindakan kepolisian yang menembak mati Altintas. “Ada sejumlah spekulasi tentang mengapa dia tidak ditangkap hidup-hidup. Lihat apa yang terjadi di Besiktas ketika mereka mencoba menangkap seorang penyerang hidup-hidup,” cetus Erdogan kepada wartawan, mengenai dua ledakan bom di luar stadion sepakbola Besiktas di Istanbul beberapa hari lalu.
Dalam serangan bom itu, 44 orang tewas, yang kebanyakan polisi, dan lebih dari 150 orang lainnya luka-luka. Saat itu, bom kedua meledak saat seorang pengebom bunuh diri meledakkan bomnya ketika dirinya dikepung para polisi.
Sejauh ini, otoritas Turki telah menangkap 11 orang terkait pembunuhan Dubes Karlov. Mereka yang ditangkap termasuk ayah, ibu dan saudara perempuan Altintas. (MAD)
MANILA,khatulistiwaonline.com
Senator Filipina yang menyerukan pemakzulan PresidenRodrigoDuterte mengaku mengkhawatirkan keselamatan nyawanya namun tidak akan berdiam diri.
Kepada BBC, Leila de Lima -mantan menteri kehakiman- mengatakan dia kini menempuh langkah pengamanan tambahan setelah mengkritik kebijakan Presiden Duterte dalam mengatasi kejahatan narkotika.
“Ada ancaman keamanan yang nyata atas saya namun sikap saya adalah ‘jika sudah tiba waktumu, ya itulah waktumu’,” tegasnya dalam wawancara dengan BBC.
De Lima menambahkan bahwa dia tidak bisa ‘menjadi seorang pengecut’ dan akan tetap mengungkapkan yang ingin dilakukan atau disampaikan.
Walau dikritik oleh pegiat hak asasi dan sejumlah negara Barat, Presiden Duterte tetap mempertahankan kebijakan tembak mati di tempat terhadap para tersangka pengedar narkotika.
Sejak Duterte berkuasa Juni 2016, diperkirakan sekitar 6.000 orang sudah dibunuh tanpa proses hukum, baik oleh aparat keamanan maupun milisi bersenjata.
EPA/MARK R. CRISTINO Leila de Lima mengatakan dia tidak bisa menjadi ‘seorang pengecut’.
(Reuters) PresidenDuterte mengaku pernah membunuh langsung tiga penjahat ketika masih menjabat wali kotaDavao.Pernah membunuh langsung
Namun pekan lalu, dia mengaku pernah membunuh tiga penjahat langsung dengan tangannya sendiri ketika masih menjabat wali kota Davao, untuk menunjukkan kepada polisi bahwa mereka juga bisa melakukan hal yang sama.
Setelah pengakuan itu, de Lima menyerukan agar ditempuh proses pemakzulan atau penuntutan mundur atas Presiden Duterte walau dia kemudian mendapat ancaman.
“Hal itu tidak akan mencegah saya untuk mengatakan bahwa hal tersebut merupakan tindakan yang bisa dimakzulkan.”
De Lima menambahkan kebijakan tembak mati yang diterapkan Presiden Duterte bisa tergolong ‘pembunuhan massal’ dan presiden seharusnya dimintai pertanggung jawaban.
Tidak banyak politisi di Filipina yang menentang kebijakan Presiden Duterte dalam ‘perang melawan narkotika’ dan de Lima adalah salah seorang yang menyampaikan penentangan secara terbuka.(RIF)
DAMASKUS,khatulistiwaonline.com
Proses evakuasi warga dari Aleppo timur, Suriah telah dimulai. Namun sekitar 50 ribu orang, kebanyakan warga sipil, masih terperangkap di wilayah itu.
“Ada 50.000 ribu orang, termasuk 40.000 warga sipil yang kurang beruntung yang masih tinggal di bagian kota tersebut. Sisanya adalah para petempur, yang berjumlah antara 1.500 dan 5.000 beserta keluarga mereka,” ujar utusan damai PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura kepada para wartawan di Paris, Prancis dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Marc Ayrault.
Pemerintah Turki sebelumnya menyatakan, sekitar 80 ribu hingga 100 ribu warga sipil kemungkinan masih terperangkap di wilayah Aleppo timur.
“Prioritas kami adalah agar para kolega PBB kami hadir bersama masyarakat (yang telah dievakuasi) dan agar para petempur dihormati sesuai ketentuan dalam kesepakatan ini,” imbuh De Mistura seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (16/12/2016).
Adapun Menteri Ayrault dalam konferensi pers tersebut, menyerukan gencatan senjata untuk seluruh Suriah dan kembali ke negosiasi.
Berdasarkan ketentuan dalam kesepakatan evakuasi yang dinegosiasikan oleh pemerintah Rusia yang mendukung rezim Suriah dan pemerintah Turki yang mendukung pemberontak Suriah, warga yang kini tengah dievakuasi dari Aleppo timur akan dibawa ke provinsi Idlib, yang merupakan benteng pertahanan oposisi.
Sebelumnya pada Kamis (15/12) waktu setempat, sekitar 3 ribu orang dievakuasi dari Aleppo timur, setelah serangan besar-besaran oleh tentara rezim Suriah selama sebulan terakhir, dengan didukung pesawat-pesawat perang Rusia. (RIF)
MANILA,khatulistiwaonline.com
Presiden Filipina Rodrigo Duterte blak-blakan mengaku dirinya pernah membunuh para tersangka kriminal sewaktu masih menjadi wali kota Davao. Pengakuan Duterte ini direspons oleh dua senator Filipina yang menyatakan, presiden kontroversial itu bisa dimakzulkan.
Dalam pidatonya di depan para pebisnis Filipina pada Senin (12/12), Duterte mengatakan dirinya turun langsung ke jalan untuk membunuh para tersangka kriminal. Menurutnya, hal itu dilakukannya untuk memberikan contoh bagi para polisi.
“Di Davao saya dulu melakukannya sendiri. Hanya untuk menunjukkan kepada mereka (polisi) bahwa jika saya bisa melakukannya, mengapa Anda tak bisa,” ujar Duterte dalam pidatonya di istana kepresiden Manila.
“Dan saya akan berkeliling di Davao dengan motor, dengan motor besar berkeliling, dan saya akan berpatroli di jalan-jalan, mencari masalah juga. Saya benar-benar mencari konfrontasi sehingga saya bisa membunuh,” imbuh Duterte.
Menurut Senator Leila de Lima, seorang pengkritik keras Duterte, pengakuan Duterte itu bisa menjadi alasan untuk pemakzulan.
“Itu pengkhianatan kepercayaan publik dan itu merupakan kejahatan berat karena pembunuhan massal tentunya masuk ke dalam kategori kejahatan berat. Dan kejahatan berat merupakan alasan untuk pemakzulan sesuai konstitusi,” ujar de Lima kepada media CNN seperti dilansir kantor berita Reuters, Kamis (15/12/2016).
Hal senada disampaikan Senator Richard Gordon yang memimpin komisi kehakiman Senat Filipina. Dikatakannya, Duterte telah membuka dirinya untuk kemungkinan sidang pemakzulan menyusul komentar kontroversialnya itu.
Mengenai komentar Duterte, Menteri Kehakiman Vitaliano Aguirre menyebut bahwa hal itu hanya hiperbola.
“Itu seperti hiperbola, itulah presiden, dia biasa membesar-besarkan hanya untuk menyampaikan pesannya,” cetus Aguirre.
Duterte pernah menjadi wali kota Davao selama 20 tahun. Kelompok-kelompok HAM telah menuding Duterte menjalankan skuad penembak mati di Davao yang telah menewaskan lebih dari 1.000 tersangka kriminal.
Sejak terpilihnya Duterte menjadi presiden, kepolisian dilaporkan telah menewaskan 2.086 orang dalam operasi antinarkoba. Lebih dari 3 ribu orang lainnya telah tewas dalam situasi yang tidak jelas. Namun dilaporkan, para penyerang bertopeng kerap menerobos masuk ke rumah-rumah dan membunuh orang-orang yang telah dicurigai sebagai pengedar ataupun pecandu narkoba.
Duterte bersikeras bahwa polisi hanya membunuh untuk mempertahankan diri dan para bandit telah membunuh korban-korban lainnya. (RIF)
Chicago,khatulistiwaonline.com –
Seorang pria Chicago, Amerika Serikat (AS) mengaku bersalah atas peran jarak jauhnya dalam kasus pembunuhan di Bali tahun 2014 lalu. Pria ini mengaku memberi saran soal cara membunuh kepada pelaku yang menghabisi ibu kekasihnya, juga warga AS, yang sedang berlibur ke Bali.
Disampaikan kantor jaksa AS untuk Northern District, Illinois, dalam pernyataannya seperti dilansir Reuters, Rabu (14/12/2016), pria bernama Robert Bibbs (26) ini mengaku bersalah atas satu dakwaan konspirasi pembunuhan warga AS di luar negeri.
Dalam kesepakatan persidangan, jaksa dan pengacara Bibbs sepakat agar hukuman maksimum yang nanti dijatuhkan tidak lebih dari 20 tahun penjara. Hal ini sebagai kesepakatan karena Bibbs mengaku bersalah dalam persidangan. Pengacara Bibbs, Donna Hickstein-Foley, enggan memberikan komentar.
Dalam persidangan, Bibbs mengaku memberi saran kepada sepupunya, Tommy Schaefer, dan kekasihnya Heather Mack via pesan singkat soal bagaimana membunuh korban, wanita berumur 62 tahun yang bernama Sheila von Wiese-Mack. Jaksa menyebut, pembunuhan dilakukan dengan harapan bisa berbagi warisan.
Von Wiese-Mack dipukul dengan benda tumpul hingga tewas oleh Shcaefer di dalam kamar hotelnya di Bali. Baik Schaefer maupun Mack diadili di Bali dan telah dijatuhi vonis.
Schaefer dijatuhi vonis 18 tahun penjara atas dakwaan pembunuhan berencana. Sedangkan Mack yang melahirkan bayinya di dalam penjara, divonis 10 tahun penjara atas dakwaan membantu pidana pembunuhan.
Bibbs mengakui dirinya sadar betul ada rencana pembunuhan dan bahkan memberikan saran kepada Schaefer soal bagaimana menutupi pembunuhan itu. Tujuannya agar Schaefer mendapat akses pada aset real estate milik korban melalui kekasihnya, Mack dan kemudian akan membaginya dengan Bibbs.
Mack dan ibundanya memiliki hubungan yang tidak akur. Namun pada Agustus 2014 lalu, keduanya berlibur bersama ke Bali dan menginap di hotel mewah St Regis Bali. Schaefer kemudian bergabung dengan mereka di Bali dan hal itu mengejutkan von Wiese-Mack.
Schaefer kemudian mengirim pesan singkat ke Bibbs di AS dan keduanya membahas soal rencana pembunuhan von Wiese-Mack. Bibbs mengaku menyarankan kepada Schaefer untuk menenggelamkan korban atau menduduki wajah korban dengan bantal agar korban kehabisan napas.
Schaefer akhirnya memukuli korban hingga tewas. Kemudian dia bersama Mack memasukkan jasad korban ke dalam koper dan memasukkannya ke bagasi taksi. Schaefer dan Mack ditangkap polisi keesokan harinya dan dinyatakan bersalah pada April 2015. Sedangkan Bibbs ditangkap di AS pada September 2015. (RIF)
Damaskus, khatulistiwaonline.com
Dewan Keamanan PBB akan menggelar sidang darurat untuk membahas krisis yang terjadi di Aleppo, menyusul pembantaian puluhan warga sipil di kota tersebut oleh pasukan rezim Suriah.
Sidang tersebut digelar atas permintaan Prancis dan Inggris. Duta Besar Prancis untuk PBB, Francois Delattre meminta adanya aksi segera terkait “tragedi kemanusiaan terburuk dalam abad ke-21 yang terjadi di depan mata kita.”
“Aleppo tengah mengalami hari-hari terkelamnya,” ujarnya kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (14/12/2016).
“Kami mendapat laporan-laporan kredibel mengenai pembunuhan brutal keluarga-keluarga, eksekusi massal, termasuk wanita dan anak-anak, rumah-rumah dibakar dengan orang-orang yang terjebak di dalamnya, terus menargetkan rumah sakit dan staf medis, dan daftarnya masih banyak lagi,” tutur diplomat Prancis tersebut.
Saat ini pasukan pemerintah Suriah telah merebut kembali lebih dari 90 persen wilayah Aleppo timur, yang dikuasai para pemberontak antirezim Suriah pada tahun 2012. Ini terjadi setelah pasukan Suriah melancarkan serangan besar-besaran bulan lalu untuk merebut kembali kota Aleppo.
“Benar-benar hari yang tragis bagi Aleppo,” cetus Dubes Inggris untuk PBB, Matthew Rycroft.
Sebelumnya, kantor Hak-hak Asasi Manusia (HAM) PBB menyatakan, pihaknya telah mendapat laporan “pasukan pro-pemerintah membunuh setidaknya 82 warga sipil, termasuk 11 wanita dan 13 anak-anak di empat kawasan berbeda di Aleppo timur, yang tadinya merupakan basis pemberontak.
“Kami juga telah diinformasikan bahwa pasukan pro-pemerintah telah memasuki rumah-rumah warga sipil dan membunuh orang-orang yang ditemukan di dalamnya,” ujar juru bicara kantor HAM PBB, Rupert Colville kepada para wartawan di Jenewa, Swiss.
Dikatakan Colville seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (13/12/2016), kejahatan tersebut dilakukan dalam beberapa hari ini, “paling mungkin dalam 48 jam terakhir”. Disebutkannya, kantor HAM PBB memiliki nama-nama para korban. (RIF)
Washington DC,khatulistiwaonline.com
KBRI Washington DC menampilkan ragam budaya Sumatera Utara (Sumut) di kantor Departemen Luar Negeri (Deplu) AS. Tak mudah mendapatkan tempat untuk pentas di Deplu AS.
“Tidak mudah memang untuk mendapatkan tempat bagi suatu penampilan seni budaya di Departemen Luar Negeri AS karena banyak hal, termasuk masalah security yang ketat dan tamu dari kalangan atas. Hal ini tentu merupakan suatu kesempatan yang sangat jarang yang tidak akan dilewatkan demikian saja,” demikian rilis KBRI Washington DC yang disampaikan Koordinator Penerangan Sosial Budaya KBRI Washington DC, Siuaji Raja pada Kamis (8/12/2016).
Maka budaya kekayaan Sumut itu dari Batak, Karo, Toba, Mandailing sukses tampil pada Senin (5/12/2016) lalu di di George Marshall Auditorium, Department of State (Deplu), Washington DC. Pementasan dilaksanakan oleh ibu-ibu yang tergabung dalam Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Washington DC, bekerjasama dengan Saroha yaitu kelompok seni budaya masyarakat diaspora Indonesia setempat yang spesialisasinya mengangkat kekayaan Sumut.
Sekitar 100 orang hadirin tampak antusias menyantap finger food tradisional Indonesia, di samping melihat display berbagai tenunan kain ulos dari Sumut, dan memperhatikan brosur pariwisata Indonesia. Acara disajikan dalam format tayangan video-video klip pendek yang menjelaskan tentang Sumatera Utara, dan diteruskan dengan tarian dan nyanyian dari DWP dan Saroha dengan iringan alat musik tradisional Sumatera Utara yang dibawa dan dimainkan oleh Saroha.
Penampilan mereka mendapatkan sambutan dari penonton karena penampilan yang kompak, serasi dan menawan. Di sela-sela acara, ditampilkan sesi kuis dengan memanfaatkan gift items yang diperoleh KBRI dari Kementerian Pariwisata RI. KBRI Washington DC sepanjang tahun ini telah membagikan gift items pada berbagai kesempatan acara promosi Indonesia sehingga semuanya itu menjadi kenangan manis di kalangan warga AS tentang Indonesia.
Tak lupa, KBRI Washington DC sampaikan juga kepada publik AS pada kesempatan ini dan di sejumlah kesempatan lain tentang akan mulai terbangnya Garuda Indonesia dalam waktu yang tidak berapa lama lagi ke AS sehingga mereka perlu warming up siap-siap berwisata ke Indonesia.
Secara umum publik AS memang tidak banyak kenal negara-negara lain, apalagi nun jauh. Dalam rangka itu, setiap promosi dilakukan untuk mengangkat berbagai kelebihan Indonesia bagi membangkitkan awareness publik AS dan meningkatkan people to people contact sehingga lebih banyak warga Amerika yang kenal Indonesia dan pelan tapi pasti mengetahui Indonesia menuju manfaat ekonomi dan bisnis.
Terlaksananya kegiatan ini diawali oleh permohonan pihak The Associates of the American Foreign Service Worldwide (AAFSW), sebuah organisasi nonprofit yang anggotanya terdiri dari Foreign Service Spouses, pekerja dan mereka yang sudah purnatugas dari Department of State. AAFSW juga berfungsi menyelenggarakan special tours and events di gedung-gedung kedutaan besar, museum dan venue khusus lainnya bagi selected/targeted audience. (RIF)
Washington, khatulistiwaonline.com
Sejak pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama di Ruang Oval Gedung Putih, presiden terpilih Donald Trump berulang kali memuji hubungannya dengan Obama. Trump bahkan mengklaim dirinya dan Obama memiliki ‘chemistry’ yang baik.
Menanggapi pujian Trump, Obama dan juga timnya tetap diam. Obama bahkan pernah membahas hal itu, meski beberapa waktu terakhir dia melakukan pidato di hadapan publik AS.
“Saya menjalani pertemuan yang luar biasa dengannya (Obama-red) di Gedung Putih dan sejumlah percakapan (via telepon) yang hebat,” ucap Trump dalam wawancara dengan majalah TIME, seperti dilansir AFP, Kamis (8/12/2016).
Wawancara itu dilakukan setelah majalah TIME menobatkan Trump sebagai ‘Person of the Year’ tahun 2016. Dalam sampulnya yang menampilkan foto Trump, majalah TIME memberi judul: “Donald Trump: President of the Divided States of America.”
“Saya akan memberitahu Anda, saya sungguh menyukai dia, saya pikir dia juga menyukai saya. Saya pikir dia juga terkejut,” tutur Trump.
“Ada chemistry yang baik. Tapi yang dibahas (di luar), kami berbeda dalam banyak hal,” imbuh presiden terpilih AS berusia 70 tahun ini, yang semasa kampanye lebih banyak mengkritik Obama.
Secara terpisah, juru bicara Gedung Putih Josh Earnest memilih berhati-hati untuk menjawab saat ditanya soal hubungan antara Obama dengan Trump. “Presiden senang dirinya bisa memainkan peranan untuk memastikan transisi berjalan mulus dan efektif dan itu menjadi hal-hal yang dia sebut sebagai — prioritas sangat tinggi, khususnya dalam beberapa minggu terakhir dirinya menjabat,” ucap Earnest kepada wartawan.
“Jadi dia tentu senang bisa memberikan nasihat dan bantuan yang mungkin berguna bagi pemerintahan yang akan datang,” tambahnya.
Obama dan Trump telah beberapa kali berbicara via telepon, sejak keduanya bertemu di Gedung Putih pada 10 November lalu. Namun Earnest enggan membahas lebih lanjut soal seberapa sering dan apa saja yang dibahas kedua pemimpin. (NOV)
Islamabad, khatulistiwaonline.com
Pesawat Pakistan International Airlines (PIA) menabrak gunung dan dilaporkan tak ada satu pun penumpang yang selamat. Pesawat yang menabrak gunung di Pakistan utara itu diketahui membawa tiga orang warga negara asing (WNA).
Dalam sebuah pernyataan tengah malam, PIA mengatakan pesawat itu membawa 47 orang termasuk lima anggota awak dan 42 penumpang. Sebelumnya, maskapai ini mengatakan ada 48 orang di pesawat.
Seperti dilansir Reuters, Kamis (8/12/2016), perusahaan penerbangan itu mengatakan dua warga Austria dan satu warga negara China, ikut dalam penerbangan. Manifest penerbangan menunjukkan tiga orang di dalamnya dengan nama asing.
Juru bicara menteri luar negeri Austria kemudian menegaskan dua orang Austria telah tewas dalam kecelakaan itu. Seorang pedagang lokal di lokasi kecelakaan mengatakan api masih menyala hampir dua jam setelah kecelakaan.
“Mereka memindahkan bagian tubuh,” kata Nasim Gohar kepada Stasiun Geo TV seperti dikutip Reuters.
Pihak Militer sendiri mengatakan telah mengirim pasukan dan helikopter. Saat jatuh, pesawat ini dalam perjalanan dari Chitral ke Ibu Kota Pakistan, Islamabad, Rabu (7/12).
“PIA melakukan segala kemungkinan untuk membantu keluarga penumpang dan awak,” kata perusahaan penerbangan itu dalam sebuah pernyataan.
Seorang mantan penyanyi pop Pakistan, Jamshed, diduga menjadi salah satu penumpang pesawat. Pernah menjadi salah satu anggota band rock Pakistan yang sukses pada tahun 1990-an, Jamshed kini diketahui menjadi seorang ulama dan aktif berdakwah tentang Islam.
Dalam tweet terakhirnya, Jamshed memposting gambar dari gunung yang tertutup salju. Dia menggambarkan soal lokasi tempat pesawat berasal, Chitral. “Heaven on Earth,” tulis Jamshed dalam postingan di akun Twitternya.
Kecelakaan pesawat yang tidak biasa di Pakistan beserta standar keselamatannya sering menuai kritik di Pakistan. Dalam beberapa tahun terakhir, media telah melaporkan kejadian pesawat keluar landasan pacu dan mesin terbakar.
Pada tahun 2010, sebuah pesawat penumpang jatuh saat hujan deras dekat Islamabad dan menewaskan 152 orang di dalamnya. Dua tahun kemudian, sebuah pesawat yang dioperasikan oleh sebuah perusahaan swasta Pakistan juga jatuh di dekat Islamabad. Sebanyak 127 orang yang ikut dalam penerbangan itu seluruhnya tewas.
PIA juga telah menderita bencana besar di masa lalu. Pada tahun 1979 dan 1992, PIA jet jatuh di Jeddah, Arab Saudi, dan di Kathmandu. Masing-masing menewaskan 156 dan 167 orang. Pada tahun 2006, sebuah pesawat PIA jatuh di dekat pusat kota Multan, menewaskan 45 orang. (RIF)
TEXAS,khatulistiwaonline.com
Sebuah lubang menganga atau sinkhole raksasa tiba-tiba muncul di San Antonio, negara bagian Texas, Amerika Serikat (AS) dan menelan apapun yang ada di sekitarnya. Seorang polisi wanita (polwan) tewas dan dua orang lainnya luka-luka setelah terjatuh ke dalam lubang ini.
Seperti dilansir news.com.au, Selasa (6/12/2016), otoritas setempat melaporkan sinkhole ini muncul pada Minggu (4/12) malam sekitar pukul 07.30 waktu setempat di San Antonio. Sinkhole raksasa itu menelan dua mobil yang posisinya terguling dan nyaris tenggelam sepenuhnya di dalam air yang memenuhi lubang itu.
Otoritas setempat memastikan seorang deputi sheriff salah satu wilayah Texas yang bernama Dora Linda Nishihara tewas seketika di lokasi. Nishihara dilaporkan bertugas sebagai seorang juru sita pengadilan.
Dia diketahui sedang tidak bertugas, meskipun dia berseragam saat mobil yang dikendarainya jatuh ke dalam sinkhole raksasa itu. Para petugas menggunakan crane seberat 100 ton untuk mengangkat mobil Nishihara dari dalam lubang yang dipenuhi air dengan kedalaman 3,6 meter itu.
Jenazah Nishihara ditemukan masih ada di dalam mobilnya. “Pikiran dan doa kami tertuju bagi keluarga dan rekan-rekannya,” ujar juru bicara kantor sheriff setempat, James Keith, menyampaikan belasungkawa atas kematian Nishihara.
Dua korban luka lainnya merupakan seorang pengemudi yang mobilnya jatuh ke dalam sinkhole dan satu orang lainnya yang berusaha menyelamatkan pengemudi itu. Otoritas setempat menyebut, dua orang yang berkendara di dekat lokasi munculnya sinkhole berusaha menyelamatkan si pengemudi.
Dalam upaya penyelamatan itu, si pengemudi berhasil dievakuasi keluar, namun si pengemudi dan salah satu penyelamatnya mengalami sejumlah luka ringan. Keduanya tengah menjalani perawatan medis.(RIF)