JOMBANG, KHATULISTIWAONLINE.COM
Polemik Hanan Attaki yang beberapa waktu lalu ditolak di Madura, Jawa Timur masih menjadi bahasan akar rumput dan jagat media sosial tanah air. Menyikapi hal tersebut Ketua Umum Organisasi Kemasyarakatan Kebangsaan Lintas agama, Suku dan Budaya Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu ( PNIB) AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) menyampaikan pendapatnya.
Melalui pesan WhatsApp yang diterima Khatulistiwa online, Kamis (23/2/2023), menurut Gus Wal, tak hanya Hanan Attaki yang perlu ditolak dan dilarang bersafari ataupun berkegiatan menyampaikan suaranya di Madura dan wilayah Jawa Timur.
“Semua dai provokator eks HTI, NII, FPI, JAT, JAD dan Khilafatul Muslimin wajib ditolak. Dilarang tampil menyuarakan kajian maupun propogandanya di seluruh penjuru negeri baik secara daring maupun online. Hal itu karena sudah jelas ideologi para da’i tersebut bertentangan dengan Pancasila, dan apa yang disampaikan dari para da’i tersebut baik secara langsung ataupun secara “samar” selalu menyuarakan mengajak/menyebarkan paham ideologi transnasional Khilafah, Radikalisme Terorisme, Politik Identitas maupun SARA yang sangat jelas mengancam keselamatan keamanan kerukunan dan integritas rakyat dan bangsa Indonesia.” jelas Gus Wal.
“Jika ada yang bertanya mengapa kami sangat keras menolak para da’i provokator eks HTI, NII FPI yang safari ataupun berkegiatan di Jawa Timur dan di seluruh negeri, adalah karena kami cinta negeri tempat dimana kami dilahirkan. Kami cinta tanah air warisan nenek moyang leluhur kami, kami cinta ke Bhineka-an kemajemukan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari berbagai suku, ras, budaya dan segala keragaman budayanya,” papar Gus Wal.
“Kami tidak ingin negeri ini selalu diributkan dan dibuat gaduh oleh para da’i provokator seperti bertahun-tahun yang lampau saat pentolan FPI belum dihukum karena perbuatannya. Kita tidak menginginkan persatuan dan kerukunan antar umat beragama dikoyak-koyak dan dicabik-cabik oleh FPI yang sudah menjadi ormas terlarang. Kami tak ingin Pancasila sebagai dasar negara pedoman hidup bermasyarakat dalam bingkai NKRI dihina oleh para da’i provokator dan sejenis eks FPI.” imbuh Gus Wal.
Masih menurut Gus Wal, jangan sampai provokator berkedok pendakwah justru memberi kesuraman dalam tatanan hidup rakyat Indonesia. Selamatkan anak bangsa ke depan, anak cucu kita kelak dari bahaya laten Da’i Provokator, FPI, HTI, NII, Khilafah radikalisme, terorisme dan politik identitas.
Kita harus belajar dari sejarah yang telah dilalui bangsa ini pada masa yang telah lampau. Kita mesti mengingat bagaimana PKI yang di tahun 1948 melakukan kudeta/pemberontakan di Madiun namun hanya segelintir tokohnya yang ditindak tegas, maka tokoh lainnya yang selamat bermanuver dengan melakukan pengkaderan yang ciamik hingga memunculkan orang orang baru untuk tampuk pimpinan PKI, hingga kembali mengadakan kudeta/pemberontakan September 1965.
Terlepas dari berbagai sudut pandang benar tidaknya PKI terlibat dalam peristiwa paling kelam tersebut namun itulah fakta yang terjadi, Gus Wal menerangkan. Bangsa ini perlu mengamini pesan dari proklamator RI Ir Soekarno “Jasmerah”, Jangan sekali kali melupakan sejarah. Kalau dulu PKI dibubarkan dan menjadi haram secara paten keberadaanya beserta kegiatan, atribut dan segala hal yang berbau PKI, maka sekaranglah saatnya Negara dalam hal ini Pemerintah dan Aparat Penegak Hukum(APH) juga berlaku demikian secara keras dan tegas memperlakukan hal sama terhadap FPI, HTI, dan PKI, haram terlarang selamanya.
Agar jangan sampai sejarah kelam di masa lampau kembali terulang. “Apa bedanya PKI dengan FPI dan HTI?” lanjut Gus Wal. Selanjutnya Gus Wal juga menekankan perlunya meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa yang sedang dalam ancaman ideologi asing.
“Bangkai busuk yang sudah dikubur dalam-dalam jangan pernah digali dan diangkat, isinya hanya belatung, penyakit dan virus yang mengganggu yang dapat mengancam kesehatan dan keselamatan rakyat Indonesia. Demi kemashlahatan bangsa dan nasib masa depan anak cucu kita kelak, maka seyogyanya negara dalam hal ini pemerintah dan Aparat Penegak Hukum berlaku tegas dalam mengambil sikap,tegas Gul Wal.
Sekali dibubarkan tak boleh bangkit kembali para penceramah ataupun da’i yang dulu pernah bergabung dengan FPI, HTI dan NII yang selalu menyuarakan khilafah radikalisme terorisme tidak boleh tampil lagi dimuka umum.
“Negara harus berani dan tegas demi kemashlahatan rakyat dan bangsa Indonesia dimasa mendatang. Rakyat Indonesia sangat mengharapkan bangsa ini maju, aman, makmur, damai, bermartabat, berbudaya dan berdaulat. Hal itu hanya bisa tercapai jika tak diganggu dengan keberadaan para Da’i Provokator eks FPI, HTI ,JAT, JAD, NII, Khilafatul Muslimin.
Maka sudah sangat wajib jika keberadaan FPI, HTI, PKI haram terlarang sepanjang masa di negeri ini beserta dengan para Da’i -Da’inya ataupun penceramah- penceramahnya yang pernah bergabung, terlibat ataupun hasil didikan mereka yang merupakan corong propoganda penyebar khilafah radikalisme terorisme” tambah Gus Wal.
PNIB bersama tokoh masyarakat di seluruh Nusantara konsisten berjuang di jalur Anti khilafah, radikalisme dan terorisme.
“Jombang, Surabaya, Jakarta, Bandung, dan seantero negeri dari Sabang sampai Merauke menolak keras keberadaan para Dai Provokator beserta kegiatanya dan menolak FPI, HTI, PKI, Radikalisme Khilafah, Terorisme dan politik identitas sampai kiamat.
Indonesia aman makmur damai bermartabat berbudaya berdaulat tanpa a’i Provokator, FPI, HTI, NII, Khilafatul Muslimin, Politik Identitas, Khilafah, Radikalisme dan Terorisme” tegas Gus Wal Tak luput juga disampaikan bahwa PNIB mendukung penuh DENSUS 88, POLRI dan TNI menumpas tindak tegas aksi maupun gerakan khilafah, radikalisme terorisme.
“Kami PNIB sangat berharap Kemenag, Kemenhan dan Kemenkopolhukam sesegera mungkin membuat sertifikasi dan regulasi untuk para Da’i dan penceramah untuk berkhotbah dan berceramah di masjid musholla ataupun dalam forum forum keagamaan dan membuat aturan baku terkait aturan pelarangan tampil di muka umum baik secara langsung ataupun online bagi seluruh Da’i Provokator dan penceramah eks FPI, HTI, NII dan Khilafatul Muslimin yang merupakan corong propoganda ideologi transnasional Khilafah Radikalisme Terorisme.Jaga Bangsa, Bela Negara, Lestarikan Pancasila, Merawat Tradisi Budaya Nusantara,” katanya. (JRS)
Gus Wal: Tolak Dai Provokator Perusak Persatuan Bangsa
