LAMPUNG, KHATULISTIWAONLINE.COM
Setelah istirahat selama dua hari di Kota Bandar Lampung, Togu Simorangkir, Irwan Sirait, Anita Martha Hutagalung dan rombongan lainnya, Kamis (22/7/2021) pagi melanjutkan perjalanan ke Pulau Jawa.
Sebelum berangkat dari rumah Dina br Sirait, tempat mereka menginap, pagi harinya Tim Pahlawan Lingkungan Tanah Batak itu menikmati sarapan yang dimasak oleh Oni, panggilan akrab Anita Martha Hutagalung.
” Sarapan pagi masakan kak Oni, enak luar biasa,” ujar Jevri Manik, Ketua Tim 11 dalam pesan WhatsApp yang diterima Khatulistiwaonline.com.

Usai sarapan dan pamit dari pemilik rumah, yaitu Dina Sirait, Togu Simorangkir dan teman-teman melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Bakauheni untuk selanjutnya menyeberang menggunakan kapal feri ke Merak.
Masih menurut Jevri Manik, didampingi Tim Watch Doc sekitar pukul 10.53 WIB, mereka istirahat minum kopi dalam rangka pembuatan film pendek tentang perjalanan Tim 11.
“Ini merupakan hari ke 39 sejak kami memulai perjalanan dari Balige, Sumatera Utara,” ujar Jevri Manik.
Togu Simorangkir selaku penggagas aksi jalan kaki dari Toba ke Jakarta untuk meminta pemerintah menutup PT.TPL atau dulunya bernama PT. Inti Indorayon Utama (IIU) milik konglomerat Sukanto Tanoto yang beroperasi di wilayah Porsea itu adalah peraih gelar Master of Science Bidang Primate Conversation dari Oxford Brookes University Inggris.

Togu Simorangkir yang masih berdarah biru karena merupakan cicit Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII bersama aktivis lingkungan lainnya memulai perjalanan dari makam Pahlawan Nasional Sisingamangaraja, Desa Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba, pada Senin (14/6/2021).
Aksi tersebut sebagai bentuk protes masyarakat atas keberadaan PT.TPL yang selama ini diduga telah merusak hutan di kawasan Tapanuli dan kerap bentrok dengan masyarakat adat.
Nantinya, setibanya di Jakarta setelah melakukan perjalanan sepanjang 1.750 Km dari Lintas Barat Sumatera itu, mereka akan menemui Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan berbagai pelanggaran yang dilakukan PT.TPL, dan meminta pemerintah mencabut izin konsesi pabrik bubur kertas tersebut.(NGO)